Harum dan Nikmatnya Kue Puthu Lanang

harapan legit dan wangi pandan demikian berasa saat mencicip kue puthu yang ada di Jalan Beskal Agung Suprapto, Kota Malang. Mengantre panjang dan menanti lama dengan konsumen setia lain kenyataannya tidak jadi masalah jika sukses rasakan kue tradisionil yang dipasarkan oleh warung Puthu Lanang. Selainnya kehadirannya yang telah lama, kue yang dipasarkan warung ini nikmat dan murah untuk dicicipi.

Harum dan Nikmatnya Kue Puthu Lanang

Pemilik warung, Siswoyo (52) menjelaskan, dagangan kue puthunya telah berada di Jalan Beskal Agung Suprapto semenjak 1935. Dibangun oleh si ibu, warung yang jual kue puthu lanang, klepon, lupis dan cenil ini masih jadi favorite warga Malang dan sekelilingnya. Tidak cuman masyarakat lokal, warung yang dikenali dengan kue puthunya ini dikenal juga pelancong luar negeri.

“Jika yang dari lokal banyak yang tiba kesini, Jakarta dan yang lain. Luar negeri seperti pelancong asing banyak kesini,” kata angkatan ke-2  pemilik warung Puthu Lanang ini saat dijumpai Republika.co.id, belakangan ini.

Siswoyo memandang, melegendanya Puthu Lanang tidak lepas dari kontributor beberapa konsumen setianya. Banyak pada mereka yang mengupload kue jajannya ke sosial media (sosmed). Ditambahkan lagi ada peranan media yang turut menolong mempromokannya.

Karena sangat populernya, ada banyak konsumen setia yang memesan di luar kota dan luar negeri. Konsumen setia itu umumnya pesan sekitaran 30 sampai 40 tangkai, baik dari lokal seperti Aceh, Jakarta dan lain-lain. Sementara untuk luar negeri, Siswoyo mengutarakan, datang dari Hong Kong dan beberapa negara paling dekat yang lain.

“Jika kue lupis umumnya tahan lama empat sampai lima hari, selama tidak dimasukkan pada kulkas,” tutur pria dari Malang ini.

Saat sebelum menyebar di sosial media, ia menambah, jajannya juga dikenali pelancong asing. Reputasi ini peluang karena warung Puthu Lanang telah lumayan lama ada di Kota Malang. Dalam kata lain, telah ada di Jalan Beskal Suprapto semenjak periode penjajahan Belanda.

Sepanjang jual jajan ini, Siswoyo menjelaskan, tidak saja masyarakat biasa yang membeli. Beberapa figur nasional bahkan juga menjadikan berlangganan saat berkunjung Kota Malang. “Bu Megawati semenjak kecil sukai kesini. Jika pulang ke Blitar, umumnya sukai ada pengawalnya kesini. Terus mendiang Kyai Haji Hasyim Muzadi dan lain-lain. Saya sempat juga 3x diundang keluarga Cendana untuk membikin puthu. Dan kembali, kue kami kerap kami kirim ke beberapa hotel yang berada di Malang Raya,” katanya.

Lama waktunya jualan puthu, Siswoyo tidak menolak, ini bukan hal gampang untuk dipertahankan. Menurutnya, keadaan ini bisa dipunyai warungnya karena konsep si ibunda yang selalu dipertahankan. Konsep “Jual Ingin Membeli Ingin” yang memiliki arti bila ada kemauan kuat untuk jual, karena itu konsumen akan bersisihan ini selalu digenggam olehnya.

Di lain sisi, Siswoyo memandang, ada nilai plus yang membuat warungnya bertahan sampai sekarang. Dia akui selalu berusaha jaga kualitas terbaik dari jajan yang dipunyainya. Seumpama kue puthu, ia menjelaskan, memakai beras tingkat pertama kali yang banyak penjual tidak berani menggunakannya karena factor harga.

“Dan untuk puthu dalam satu hari kita mempersiapkan 25 sampai 30 kg beras, dan Insya Allah ini selalu habis,” terangnya.

Selainnya puthu, ia menambah, klepon termasuk juga kue yang sudah dijualnya semenjak awalnya berdiri. Sementara kue lupis dan cenil masuk ke daftar jajan dalam beberapa saat paling akhir. Kue jajan ini dibandrol sekitaran Rp 10 ribu per jatah yang ada sembilan biji.

Siswoyo minimal sukses habiskan 500 sampai 600 jatah dalam kurun waktu tiga jam. Jumlah ini bukan hanya puthu, tetapi termasuk juga kue lopis, klepon dan cenil. Kue-kue ini umumnya akan habis dalam kurun waktu tiga jam dari agenda membuka pada jam 16.45 WIB. Oleh karenanya, beberapa konsumen benar-benar dianjurkan untuk pesan lebih cepat supaya tidak kekurangan.

About Drajad