Mengenal 4 Ciri Pesantren yang Berpotensi Radikal

Fokus dalam mencetak generasi-generasi Qur’ani, Sebelum melanjutkan artikel Mengenal 4 Ciri Pesantren yang Berpotensi Radikal, Sekedar kami info:

Apabila Anda Mendambakan putra/putri untuk menjadi Tahfidz kunjungi website Pondok Pesantren Tahfidz

Dalam sejarahnya, pesantren sudah demikian bersatu dengan warga sekelilingnya, hingga semua tetek bengek pesantren akan dijumpai oleh khalayak luas. Berita mengenai ada pesantren yang ‘kecolongan’ oleh radikalisme pasti mengagetkan, walau seperti saya ungkapkan awalnya tak perlu direspon terlalu berlebih.

Sebagai sisi intgral dari pesantren, warga bisa bersama membuat perlindungan pesantren dari bahaya radikalisme. Modal khusus untuk lakukan hal tersebut adalah dengan ketahui beberapa ciri pesantren radikal, hingga dengannya warga bisa selekasnya tentukan sikap.

Berikut 4 ciri-ciri pesantren yang mempunyai potensi radikal:

1. Sistem Edukasi Terbatas dan Anti Kritikan

Islam sebagai agama yang prima dan tidak tinggalkan satu juga masalah tanpa jalan keluar. Alquran dan Hadist ialah dua sumber hukum intinya, walau sayang sejauh ini kerap kali ke-2 nya tidak dimengerti secara detail, mengakibatkan seorang tidak sanggup mengaktualisasikan tuntunan-ajaran ke-2  sumber itu secara baik.

Bahkan juga yang lebih kronis, interpretasi-interpretasi sempit sudah membawa beberapa saudara kita untuk cuman terpusat pada satu mazhab saja, mengakibatkan seorang santri tidak saja fanatik pada satu opini tapi pun tidak mempunyai wacana yang luas karena mereka diberikan menghindar ketidaksamaan opini dan terpusat pada satu opini saja. Metode semacam ini secara mudah membuat santri ikuti system doktrin dan tanpa daya krisis yang bagus.

2. Guru/Ustadz/ah Mempunyai Pertimbangan Exclusive dan Tertutup Pada Mazhab Lain

Mekanisme akseptasi guru di pesantren tidak seperti mekanisme akseptasi karyawan di sejumlah lembaga atau perguruan tinggi umum. System penerimaan guru di pesantren biasanya dilaksanakan secara kejadiantial saja, maknanya bila seorang mempunyai pengetahuan agama atau ijazah, bisa jadi langsung diterima sebagai guru tanpa lewat tes atau ujian kelaikan di pesantren.

Beberapa pesantren masih memakai mekanisme ini. ini pasti kerap kali buka sela untuk guru yang mempunyai tujuan tertentu untuk masuk dan menyebar pertimbangan sempitnya. Disini beberapa guru dengan background pertimbangan yang terbatas lakukan doktrinisasi, hingga sering terjadi ketidaksamaan opini di antara guru yang mengajarkan dengan pimpinan pondok karena ketidaksamaan langkah pandang terhitung ketidaksamaan materi edukasi.

3. Kurikulum Edukasi Tidak Berisi Nasionalisme dan Wacana Berkebangsaan

Pesantren yang condong radikal umumnya meremehkan pengajaran yang berkaitan dengan nasionalisme dan wacana berkebangsaan, mereka cuman konsentrasi pada pengajaran agama saja. Masih untung bila pengajaran agama yang dimasukkan betul-betul sesuai arah dan makna-makna Alquran dan Hadist, tetapi persoalan umumnya ada saat edukasi yang diterapkan dalam suatu pesantren tidak memberi ruangan untuk santrinya untuk belajar dan menyukai tanah air ini.

Pesantren yang ikuti Kurikulum Kementerian Agama atau Kementerian Pengajaran Nasional tentunya jauh dari pertimbangan radikal karena pelajaran yang diterima telah mencakup wacana nasional dan berkebangsaan. Kalaulah ada antara alumni pesantrennya yang selanjutnya radikal, karena itu pertimbangan itu didapat pada tempat lain.

4. Independensi Pesantren Dalam Mengurusi Dianya

Seperti yang dijumpai jika pesantren lahir dari ide seorang atau sebuah yayasan, termasuk dari hasil swadaya warga. Karenanya, kerap kali pesantren yang memandang dianya mempunyai kekuatan materi tidak mau ditata oleh pemerintahan berkaitan dengan kurikulum yang dipakai dan condong memakai kurikulum sendiri.

Pesantren yang mempunyai corak semacam ini pasti tergantung pada pimpinannya atau pemiliknya, maknanya pemiliklah yang tentukan tujuan pengajaran dalam pesantren itu. Bila pimpinannya mempunyai background pertimbangan yang fanatik dan terbatas, karena itu automatis pertimbangan yang berkembang di kelompok santri ke arah ke pertimbangan radikal, fanatik dan terbatas.

Empat poin di atas hanya beberapa dari beragam tanda-tanda lain pada radikalisme, meskipun begitu, tidak seluruhnya pesantren dengan corak di atas selalu mengajari radikalisme, karena cukup banyak pesantren yang berdikari dan mempunyai kurikulum tertentu malah jadi pesantren pujaan karena selainnya sanggup membuat alumni-alumni yang bukan akuntable dan capable, tapi juga pintar dan pahami lingkungan disekelilingnya.

About Drajad